Jumat, 01 November 2013

Sebuah Puisi Pada Satu Waktu


5.01 pm
yang kubuat bukan hanya prosa cinta
tapi adalah golak hati yang sendu
hati yang menginginkan kasih

mungkin bagi mereka, tatapan
bukan apaapa
namun bagiku, tatapan adalah segalanya

mungkin bagi mereka, sentuhan
bising yg tak berarti
beda dengan ku, sentuhan mu rinduku

mungkin orang bingung
kenapa hanya itu
dan aku akan tersenyum sepanjang hari

berbisik pada rerumputan
atau angin yang menari
aku merindu lagi

lalu arakan awan
dan magenta menjauh dari peraduan
menjawab kau harus pulang

hari itu berlalu dengan cepat kurasa
menginginkan akan ada lagi dan lagi
melodi melodi yang mengisi relung hati

malam pun menyelimuti
bulan mengucap selamat tidur sayang
dan burung hantu nyanyikan lagu tidur

perlahan ku tutup mata untuk hari ini
berdoa esok ku kan terjaga
dan mulai hari baru lagi

selamat pagi kasih adalah yang ku rindukan
dalam tiap memori atau pun mimpi
merindu lagi

tapi hari ini berbeda
kemana rerumputan dan angin
kemana arakan awan dan magenta

kenapa menghilang
salahkah aku bangun pagi ini
haruskah aku berlari pulang dan mengulang

terduduk bersedih ku disudut hati
menunggu yang ku kerja
terisak ku ucap lirih namamu

kuseka air mata yang mulai menitik lagi
dulu kau yang menyeka dan berkata
aku disini, tenanglah kasih

bulan mulai menyinari malam itu
tanpa kata hanya memandang ku
tanpa jawab yang ku tanya

diantara bimbang dan hancurnya
kau berdiri disana
mengulurkan jemari mu

sudah, jangan menangis
aku kembali
maafkan aku

kau berbisik dan memeluk ku
ya malam itu masih dingin
dan bulan masih memandang

mungkin hanya aku
yang terlalu berharap,
tetapi kau kan terus datang

5.17pm

Posted on by Qatrin Anistina | No comments

0 komentar:

Posting Komentar