Apakah
kau yakin ingin mengenalku? Mari ku perkenalkan pada seorang temanku. Ia
menyerupaiku – perkataannya, perangainya – tingginya melebihi ku, dan ia
seorang lelaki.
***
Aku
telah mengenakan baju lengan panjang, namun teriknya panas masih mampu menembus
baju kerja berwarna biru muda yang telah lusuh ini. Kembali bekerja adalah hal
yang paling ku benci, keadaan pabrik yang penuh, sesak, mesin-mesn yang bising
membuat ku muak. Aku tak lebih dari orang yang tak berguna, di sebuha pabrik
tekstil terbesar di Asia Tenggara. Aku hanya seorang gadis pembuat kopi yang
bersedia disirami kopi panas apabila sang atasan tak menyukai rasanya. Awalnya
aku adalah gadis biasa pengual bunga, entah apa mulanya, aku “terdampar” disini
dan tak bisa keluar.
“Woi!
Kopi saya mana? Melamun aja! Kerja! Kerja! Dasar pemalas!”. Oh tidak!
Manusia-manusia itu mulai lagi, menghardik, memaki sesuka hati. Aku harus
segera memberikan mereka kopi ini sebelum mereka berubah menjadi moster. Lihat
disebelah sana, mukanya masam dan tak sabar menunggu. “Dasar pemalas! Saya
sudah menunggu disini 3,5 menit dan kau tak sampai-sampai! Waktu ku berharga,
berbeda dengan waktu mu yang terbuang sia-sia!”. Apa? 3,5 menit pelit betul!
Manusia sombong ini tak lebih dari pria gendut yang tugasnya hanya melihat
mesin bekerja. Aku berbalik dan mengacuhkannya, namu tak disangka manusia tadi
mendorong gulungan kain tak terjual disebelahnya hingga jatuh menimpa ku. Aku
jatuh bersama kopi-kopi panas yang belum sempat ku berikan, aku merasa pusing
dan panas. Sesaat sebelumnya aku melihat seseorang berlari merusaha menolong
ku.
***
“Apa
dia baik saja? Gulungannya begitu berat dan banyak”. “Biarkan saja, nanti dia
sadar sendiri”. Sayup-sayup ku dengar orang-orang seperti sedang
membicarakanku, orang yang berbeda dengan manusia jahat tadi. Aku melihat 3
orang, seorang duduk disebelah ku, 2 orang lagi berdiri diambang pintu. “Dia
sadar”. “Apa kau baik saja? Apa perlu dokter?”. Aku menggeleng, lalu mereka
berdua pergi. Namum lelaki yang duduk disebelah ku hanya bergeming. “Kau baik
saja?” tanyanya. “Yaa..” kurasakan pusing yang sangat. “Aku tidak merasakan
lagi adanya tubuh” jawab ku serak. “Siapa kau?”. “Aku hanya rekan kerja, maaf
aku harus pergi. Besok temui aku di kafe seberang jalan, anggap saja aku teman
lamamu”. Aku menghela nafas tak perduli.
Sejak
saat itu, kami selalu berjalan bersama, sepulang ku kerja ia tetap dengan jas
formalnya. Ia bercerita, aku bercerita. Ia begitu memahami ku, satu-satunya
orang yang memahami ku. Sudah 6 tahun sejak kejadia itu, kami tetap melakukan
yang sama, pakaian yang sama, kerja yang sama.
Namun
hari ini ia banyak diam, dan membuatku penasaran, “Ada apa dengan mu? Ku lihat
kau banyak diam?”. “Aku hanya memikirkan sesuatu..” jawabnya. “Sesuatu? Apakah
aku tahu itu? Kau selalu memberi tahu segala tentang mu.” Desak ku makin
penasaran. “Apakah kau pernah membayangkan rasanya kematian? Aku begitu
penarasan, bagaimana rasanya nyawa berada diujung tenggorokanku”. Dia menjawab
tanpa menolah sedikit pun padaku. Ia hanya memandang lurus kedepan. Kini kami
berada dibelakang areal pabrik, dekat dengan daerah teduh yang dilindungi
pepohonan. Ia mengajakku duduk di salah satu batang pohon yang mulai mati.
Beberapa orang yang lewat memandang ku seperti orang gila karena terlalu banyak
bicara, namun diantara kami tak ada yang peduli. “jadi?” desak ku makin
menjadi. “Apakah kau mau mati bersama ku?”. Apa? Apa katanya barusan? Mengajak
ku mati bersamanya? Mati? Apakah aku menginginkannya? “Mengapa kau diam? Kau
mau?” katanya. “sebenarnya aku muak dan bosan dengan hidup, namun untuk
mati...” “caranya mudah” potongnya. “untuk mati aku belum memikirkannya, hanya
saja terasa begitu asing” potong ku lagi. Angin sore menjelang malam mulai
dingin, namun kami tetap pada posis masing-masing, masih hening. Tiba-tiba saja
dia berdiri, lalu berjalan menuju jalan raya. Awalnya ia hanya jalan biasa, ku
kira ia mengajak ku pulang, namun ia berlari menyebrang jalan disaat yang sama
sebuah mobil pembawa barang berkecepatan tinggi melintas. “TIDAK!! APA YANG KAU
LAKUKAN?!”. Aku berusaha mengejarnya. Seketika ia berbalik dan menghadapku, dan
tertawa. “A..pa?” “Melakukan apa ha? hahaha” “Dasar! Aku takut kau akan bunuh
diri karena perkataan mu barusan. Ayo pulang!” aku berbalik, berjalan pulang.
“Aku hanya akan mati bersamamu..”. “Maksudnya?” tanya ku penasaran? “Tak apa,
ayo pulang! Aku sudah sangat capek!”. Aku yakin dengan apa yang diucapkanya
barusan. Aku hanya akan mati bersamamu.
***
Malamnya,
aku masih memikirkan yang diucapkanya sore tadi. Begitu mengusik. Semakin aku
berusaha untuk melupakannya, aku semakin bingung. Aku memandang hp, menimbang
apakah menelponnya atau tidak. Lama aku berpikir, aku jatuh lelap dalam mimpi.
“lebih
baik kau mati dari pada bekerja tidak jelas disini!” manusi jahat itu tetap
saja mengganggu ku. Aku tak suka bekerja disini, namun mau makan pakai apa aku?
Keluar dari pabrik berarti kematian perlahan bagi ku.
Dddrrrrtt..
dddrrtt... hp ku bergetar. Hhhhhh. Siapa pagi-pagi yang menelpon ku? Hari ini
minggu! Ku lihat layar hp, tertera namanya. Aku terkejut, langsung mengangkat
telponnya.
“pagi,
apakah aku mengganggu tidur mu?” “ya! Dan kau tahu hari ini adalah hari minggu”
“hahaha baiklah, ayo pergi kesuatu tempat! Aku sudah diluar” “apa? Dengan
kondisi ku seperti ini?” “aku akan menunggu 10 menit!”. Tit. Telpon dimatikan.
Aku bergegas merapikan diri, mandi dan berpakaian. Aku pun berlari keluar, ku
lihat ia tak ada. Ah! Aku dikerjainnya! Sial. Aku berniat menyambung tidur ku
yang terputus, namun ternyata dia sudah berapa tepat dibelakang ku. “jadi, kau
berencana menyambung tidur mu? Lupakan sekarang ikut aku! Aku akan menunjukkan
sesuatu pada mu, sesuatu yang takkan kau lihat lagi.” Ia menarik tangan ku
pergi.
Ternyata
ia membawa ku ke taman kemarin, namun yang ku lihat adalah lapangan yang luas,
hanya ada beberapa orang yang berlari dan beberapa kendaraan yang melintasi
jalan raya. Matahari pagi menyembul diantara pepohonan taman kota itu. Sinarnya
hangat, begitu berbeda dengan apa yang selama ini aku rasakan menjelang pergi
ke pabrik. “kau suka?” tanyanya setelah lama menikmati suasana pagi. “ya aku
sangat suka.” Lalu kami duduk berdampingan di sebuah batang pohon yang begitu
lebar.
Oh..
hangat apa yang menyentuh muka ku? Haa, aku sedang di taman kota bersamanya,
dan aku tertidur? Aku terjaga, namun aku tak melihatnya disebelah ku. Aku
mencarinya kemana-mana.
Siapa
lelaki yang di tepi jalan itu? Oh disana dia. Apa yang dia lakukan? “apa yang
ingin kau lakukan?” teriak ku, berharap ia mendengarnya. “aku akan membeli
minum sebentar” balasnya. Baru saja hendak menyeberang jalan, mobil sport hitam
menabraknya lalu kabur. “TIDAK!!” “tolong! Teman ku ditabrak lari! Tolong!
Tolong!” aku berteriak seperti orang kesetanan.
Bukannya
mendekat, orang-orang malah menjauhiku. Memandang ku seperti orang gila. Kepala
ku pusing dan aku tak bisa menahannya lagi. Rasanya seperti nafas ada diujung
tengggorokanku.
***
“bagaimana
keadaan mu?”. Aku dimana? Tempat ini aneh. Putih dan berbau menyengat. “nona?
Bagaimana keadaan mu?” tanya seseorang yang kurasa seorang dokter. “teman ku
mana? Dimana lelaki yang ditabrak tadi?” tanyaku. “lelaki teman mu? Ketika kau dibawa
kerumah sakit, saksi hanya mengatakan kau sendiri yang menjadi korban.” Apa?
Kemana dia? “nona, apakah kau sakit? Sakit tentang sesuatu?”. “tidak. Aku
sehat! Tapi dimana teman ku? Dia seorang lelaki yang memakai jas formal” “nona,
lebih baik anda beristirahat dulu,nanti saya tanyakan kepada teman saya”
***
“bagaimana
keadaan mu?”. “apa maksud mu? Aku dibawa kesini tanpa mu, tapi kau lebih sehat
daripada ku! Huh!” setelah beberapa hari dirawat dirumah sakit dia menjenguk
ku. “maaf, aku meminta mereka memisahkan ku dari mu, aku hanya tak ingin
melihat ku menangis kesakitan hahaha”. “banyak alasan!”. Kenapa dia bisa sembuh
duluan dari pada ku? Tanya ku dalam hati.
Setelah
lama bercerita dengannya, ia pergi dengan alasan ada acara penting. Tak lama dokter
datang. “nona, bagaimana keadaan mu? Apakah kau telah bertemu teman mu itu?”
“sudah dok, kenapa?” “tidak hanya saja, oh, perkenalkan ini teman yang saya
ceritakan kemarin. Apakah kau keberatan berbincang dengannya, sementara
menunggu hasil labor hari ini?” “tidak masalah..”
“oke,
baiklah. Saya pamit dulu.” Jadi tinggallah aku, dan teman si dokter tadi. Ia
hanya duduk dan memperhatikan ku. “hmmm, nona, apakah kau memikirkan sesuatu?
Mengapa kau memandangku seperti itu?” “maksud anda dok?” “maaf sebelumnya,
apakah nona ingin membantu saya? Tapi kalau nona keberatan, tidak masalah bagi
saya”. Dokter tadi terus membuka komunikasi dengan ku, menarik. “jadi, apa yang
bisa saya bantu dok?”. Lama hening.
“setelah
nona bertemu dengan teman saya di UGD, nona bertanya tentang teman nona kan?
Namun, menurut saksi tak ada orang lain disaat itu, hanya nona seorang” dokter
tadi menghela nafasnya. “jadi.. ketika teman saya bercerita tentang itu kepada
saya, saya merasa nona orang yang tepat, untuk..” “orang yang tepat? Maksud
dokter?” aku mulai tidak mengerti dengan arah pembicaraan dokter ini. Aku mulai
bingung. “maaf, maksud saya nona orang yang tepat menjadi sumber untuk
penelitian saya tentang Schizophrenia.” “Schizophrenia?” aku mengulang
kata-kata dokter tadi dengan raut tak percaya. Sakit apa aku? “Schizophrenia
itu adalah suatu sakit psikologis, yang mana penderitanya biasa mengalami
halusinasi.” Jelas dokter tadi. “jadi dokter mengganggap saya gila?” aku mulai
tak sabaran. “bukan, gila nona. Tolong nona sabar dulu
gejala
tiap pasien berbeda, akan tetapi kebanyakan pasien “dibunuh” oleh “teman”
mereka sendiri”. “dibunuh? Dokter, saya mohon jelaskan yang sebenarnya. Saya
benar-benar tidak mengerti.” “baiklah, tapi tolong nona tetap tenang” dokter
tadi menghela nafas. “setelah mendengar cerita dari teman saya, saya merasa
gejala anda berbeda dengan kebanyakan terjadi. Apakah nona tidak merasa aneh
dengan orang yang nona sebut teman itu?” “tidak, dia hanya seorang lelaki dan
dia selalu memakai jas formal. Apa yang salah tentang itu?” “apakah tidak aneh
kalau seseorang terus memakai jas mereka sepanjang hari? Jadi saya merasa teman
nona itu, bukan teman khayalan nona. Melainkan diri nona sendiri. Nona berharap
menjadi seperti dia sehingga apa yang selalu nona pikirkan “lahir” menjadi
sesuatu yang nona anggap nyata. Apakah nona bisa memberi tahu saya apa yang
nona tidak suka dari dia?”. Sedari tadi aku menyimak kata-kata dokter tersebut
serta memaknainya. Oh Tuhan. “yang saya tidak suka? Tidak ada, saya merasa ia
begitu... memahami saya” suara ku tercekat. “jadi, apakah nona mempercayai
saya? Apakah nona ingin membantu saya?”. Dokter tadi balik bertanya. “jadi saya
harus bagaimana? Anda sudah mengetahui keadaan saya” kepala ku pusing,
pikiranku benar-benar tidak siap menerima ini begitu cepat. “nona hanya perlu
sembuh, dengan begitu nona membantu saya. Urusan biaya tak usah dipikirkan,
pihak rumah sakit akan mengurusnya” dokter tadi masih berusaha menyakinkan ku.
Oh tuhan, tolonglah aku. “baiklah dok.” Itulah hal terakhir yang dapat ku
ucapkan. Apakah selama ini orang memandangku dengan tatapan aneh karena ini?
Karena penyakit ini?
***
Rumah
Sakit, 11.45 Malam
Kepada diriku.
Apakah
kau merindukanku? Setelah beberapa lama aku dirawat di rumah sakit, kau hanya
mengunjungiku beberapa kali. Apakah kau sibuk? Aku ingin kita bertemu lagi.
Mungkin ini yang terakhir kalinya. Maafkan aku, aku hanya ingin membantu dokter
yang begitu baik disini. Ia memintaku untuk sembuh, karena itu lah kita tidak
dapat bertemu lagi, kurasa.
Diriku,
sampai kapan pun aku bersama mu, kala kau merindukan ku datanglah, tapi ingat
kau harus berhati-hati dengan dokter yang selalu menjaga ku disini.
Diriku, selamat tinggal. Aku menyayangimu. Selamanya.
0 komentar:
Posting Komentar